Wisuda diusia 47 tahun

Selasa, April 28, 2026


Apa rasanya diwisuda di usia yang tak lagi muda—47 tahun?

Barangkali rasanya seperti menuntaskan perjalanan panjang yang tak selalu lurus. Waktu yang berlapis-lapis, kepentingan yang saling bertaut, kesibukan yang kerap membagi arah langkah, serta berbagai keadaan yang silih berganti menguji keteguhan.

Mungkin, bagi sebagian orang, kisah ini tampak biasa saja—bahkan kurang membanggakan jika diukur dari lamanya waktu dan apa yang tertera sebagai hasil akhir. Namun bagi saya, ini adalah bentuk kemenangan yang sunyi. Sebuah kebanggaan yang tumbuh dari cara memandang hidup: menuntaskan apa yang telah dimulai, seberat dan selama apa pun itu.

Saya hanya berpegang pada satu hal yang sederhana namun tak selalu mudah dijalani—berusaha sepenuh mungkin hingga selesai. Prinsip yang telah lama saya genggam, dan semoga tetap menjadi arah langkah ke depan, mengalir sebagai jalan keberkahan. Prinsip untuk tidak tunduk pada keadaan, juga tidak menyerah pada keterbatasan diri.

Karena hidup tidak selalu tentang gemerlap. Tidak semua orang menjadi tokoh utama, tidak semua cahaya memancar mencolok, tidak semua suara menggema keras. Namun semuanya tetap berarti, tetap hadir, dan tetap diperlukan.

Mungkin, tanpa saya sadari, prinsip itu tumbuh dari pemahaman atas sabda Rasulullah saw: bahwa amal yang paling dicintai Allah adalah yang dilakukan terus-menerus, meski kecil, dan bahwa nilai seorang hamba terletak pada bagaimana ia mengakhiri perjalanannya.

Dari sana, saya belajar merajut langkah dengan cara yang sederhana namun teguh—menyelesaikan apa yang telah saya mulai, sekuat dan semampu yang saya bisa. Bahkan ketika jalan terasa sepi, ketika tak ada lagi teman seperjalanan, keyakinan itu tetap saya jaga.

Sebab bagi saya, yang terpenting bukanlah gegap gempita saat memulai, bukan pula semangat yang menyala di awal langkah. Yang jauh lebih bermakna adalah kesetiaan dalam berproses—menapaki setiap tahap dengan sabar, dan tetap bertahan hingga titik akhir yang dituju.

Di situlah makna sesungguhnya berdiam: pada ketekunan yang tak selalu terlihat, pada langkah-langkah kecil yang terus dijaga, hingga akhirnya menjadi cerita utuh yang selesai hingga akhir.

Pada akhirnya, segala puji kembali bermuara hanya kepada Allah—Dzat yang menguatkan langkah saat lelah menyapa, yang meneguhkan hati ketika arah terasa samar, dan yang membukakan jalan bahkan ketika harapan hampir padam.

Segala yang telah terlewati, yang terasa berat maupun yang mengalir ringan, bukanlah semata tentang kemampuan diri, melainkan tentang keyakinan pada Sang Maha Kuasa, yang senantiasa hadir dalam setiap sujud, dalam tiap tetes air mata, dan dalam doa-doa yang entah telah berapa kali dilangitkan.

Maka di titik ini, tak ada yang lebih layak terucap selain syukur—syukur yang sederhana, namun dalam: bahwa setiap langkah yang tertatih pun, pada akhirnya sampai karena izin-Nya semata.

Yogya-Jakarta, 22-27 April 2026















You Might Also Like

0 komentar

recent posts