Prof Udin

Selasa, April 27, 2021

Bismillaahirrahmaanirrahiim
UDIN dari MARBOT MASJID jadi PROFESOR
ditulis oleh:
Falasifah Ani Yuniarti
Alhamdulillaahirabbil'aalamiin
Asyhadu an laa ilaaha illallaah wa asyhadu anna Muhammadan rasuulullaah
Allaahumma shalli'alaa Muhammad wa'alaa ali Muhammad
Tahun 1998, dia ke Jogja, sebagai mahasiswa baru UNY, jurusan elektro. Kehidupannya yang tidak berkecukupan membuatnya prihatin, kuliah, tinggal dan mengurus masjid Al Amin, menjadi marbot dan jualan tempe.

Setiap pagi setelah subuh, dia kayuh sepeda bututnya, mengambil tempe Mochlar dan mengantar ke langganannya. Setelah itu, kembali ke masjid untuk membersihkan masjid, kemudian mengayuh sepedanya di kampus yang jaraknya sekitar 5km. Kadang malam hari selepas isya dia mengantar tempe ke langganannya yang lain.

Tak jarang dia pulang ke masjid di sela-sela jam kuliahnya untuk melantunkan adzan dhuhur atau ashar. Kemudian balik lagi ke kampus untuk meneruskan kuliahnya.
Sepulang kuliah, dia mengajar anak-anak mengaji di TPA masjid. Berpuluh anak belajar a ba ta darinya. Tepuk anak sholeh dan lagu anak TPA pun diajarkannya.

Setiap malam kamis, pengajian rutin disiapkannya. Sebagai marbot masjid, dia mengangkat minum dan snack, membagikan ke jamaah yang hadir mengaji. Setelahnya, dia merapikan lagi tikar gelaran tadi, menyapu dan mengepelnya.

Alhamdulillah, Udin, begitu kami memanggilnya, lulus dengan cumlaude. Meneruskan sekolah s2 di ITS, dan kemudian menikah. Setelah menikah, dia tidak lagi tinggal di kampung kami. Menurut kabar dia tinggal di daerah Bantul, dekat suatu makam di sana.

Selang berapa tahun, dia kembali. Dia membeli rumah di kampung kami, dekat dengan masjid yang dulu dia rawat. Kali ini, dia sudah menjadi dosen di UNY dan sudah PhD. Sudah memiliki anak 3.

Bertahun berlalu, Udin yang dulu mengayuh sepeda butut, sekarang sudah mengendarai mobil. Sesekali sepeda dikayuhnya untuk berolah raga. Tak lama lagi, dia akan menjadi Profesor. Profesor Khairudin, di usia sangat muda.

Barakallah Prof Khairudin.Maafkan kami, tak bisa mengubah panggilan itu, Udin. Meskipun sudah Profesor, engkau tetaplah Udin, yang bagai anak bagi mama dan bapak, adik, kakak, bagi keluarga kami. Dan menjadi teladan bagi kami.

Condong Catur, 4 Agustus 2020




nb. kisah ini sengaja pemilik blog masukkan karena mengenal dan pernah berinteraksi langsung dengan Prof Udin, sehingga kisah inspiratif ini bisa dikonfirmasi.

You Might Also Like

0 komentar

recent posts

Follow My Facebook